Uji Tantang Udang Windu Penaeus monodon Transgenik Menggunakan Bakteri Patogen Vibrio harveyi
Andi Parenrengi, Andi Tenriulo dan Bunga Rante Tampangallo 2013

Abstract
Perakitan strain udang windu tahan penyakit telah dirintis dengan memanfaatkan teknologi transgenesis melalui transfeksi gen antivirus. Udang windu transgenik yang dihasilkan memperlihatkan resistensi yang lebih tinggi (24,5%) terhadap virus bintik putih (WSSV) dibandingkan dengan udang windu normal. Meskipun demikian, uji tantang dengan bakteri berpendar Vibrio harveyi penyebab penyakit vibriosis perlu dilakukan. Infeksi V. harveyi pada larva udang windu di perbenihan dapat menyebabkan kematian larva hingga 100% dan di areal pertambakan dapat mematikan udang sebelum masa pemeliharaan 80 hari serta menjadi pemicu munculnya infeksi sekunder dari WSSV. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelulushidupan dan gambaran organ udang windu yang dipapar bakteri patogen V. harveyi. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, yang terdiri dari 2 perlakuan dan 3 ulangan. Hewan uji yang digunakan adalah udang windu transgenik dan non-trangenik dengan ukuran berat 3,93±1,25 g dan panjang total 7,59±0,87cm. Perlakuan yang diujikan adalah penyuntikkan bakteri V. harveyi (kepadatan 5x106 CFU/mL) sebanyak 0,1 mL/ekor pada udang udang windu transgenik (A) dan udang windu non-transgenik (B). Pengamatan tingkah laku dan morfologi (gejala vibriosis) pada udang uji dilakukan setelah udang disuntik dengan V. harveyi. Pengamatan selanjutnya dilakukan setelah 6 jam, 12 jam, 24 jam, dan selanjutnya setiap hari hingga hari ke-6. Kelulushidupan udang uji dihitung setiap hari dan diakhir penelitian. Untuk mengetahui efektifitas dari perlakuan transfeksi gen yang diberikan, maka dilakukan perhitungan Relative Percentage Survival (RPS). Jaringan organ histopatologi diambil dari udang yang moribund dan hidup. Data dianalisis menggunakan uji T-test dengan bantuan program SPSS versi 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelulushidupan udang windu transgenik 60% lebih tinggi dibanding dengan udang windu normal dengan nilai RPS 64,29%. Vakuoalisasi pada jaringan hepatopankreas udang windu transgenik cenderung lebih sedikit dibanding udang windu normal setelah dipapar bakteri patogen.